Pengalaman Setor SPT

Posted on Updated on

Hari ini..
Kami datang jam 9-an.  Kantor pajak buka jam 10 (di hari sabtu ini. katanya sih sampe jam 15. menerima “hanya” 300 orang saja).  Saat saya datang, yang berkerumun di lobby sudah lebih dari 50-an orang.
Tiba-tiba jam 09.35-an seorang anggota Security berkata di depan, “Bapak/ibu, semua harus punya nomor..” sambil menenteng tumpukan kartu berwarna hijau. Tak ayal… semua yang hadir tiba-tiba jadi beringas mengerubuti si satpam bahkan sampai ada yang terjatuh. Ibu-ibu tua, muda, mbak-mbak, mas-mas, semua tumpah menyerbu meja tempat si tegap itu berdiri.
Saya memperhatikan dari kejauhan betapa menyedihkannya birokrasi orang-orang bergaji tinggi ini. bahkan untuk
membeli mesin pencetak nomor urut dan seperangkat video saja tidak sanggup.😥
Semua mereda setelah masing-masing mendapatkan kartu berwarna hijau dengan angka berwarna hitam, dalam pertempuran yang tidak seimbang.  Saya juga dapat…:) nomor: 142.  Tidak terlalu buruk, untuk seorang yang hanya berdiri menunggu pertarungan hidup-mati itu berakhir.
Sejurus kemudian.. atau mungkin 3-5 jurus kemudian, tiba-tiba si security berbadan tegap itu mengambil mik dan berbicara, “Bapak/ibu, mohon maaf.. kartu tersebut semua salah. yang benar seharusnya berwarna putih..!!”
Tanpa komando, warga-warga negara yang baik dan taat itupun menyerbu kembali ke depan di mana meja bertuliskan “Validasi”, “Peneliti” dan “Tanda Terima” berada.  Dengan agak bingung si bapak ini meminta semua kembali duduk dan mengumpulkan kartu hijau dengan tertib.  Saya sendiri sebagai pengamat kesedihan ini akhirnya berjalan gontai di belakang sambil menaruh angka “142” di deretan meja-meja yang masih kosong itu.
Sepuluh menit kemudian, datang seorang berambut kelimis, berkacamata dan sedikit berwajah arogan mengambil mik dan bicara, “Bapak/ibu, kartu putih nomor urut panggilan akan saya berikan. Tapi, saya ingin sampaikan bahwa saya tadi jam 9 menyaksikan 20 orang yang hadir duluan di tempat ini. mohon maju ke depan..!!” Agak berteriak.
Karuan saja, para wajib pajak yang taat itu pun berhamburan kembali ke depan mengaku datang paling duluan… Perdebatan tidak bisa dihindari bahkan terdengar teriakan-teriakan, karena Si Bapak ini tidak mau menyerahkan kartu yang menumpuk di tangannya karena yang maju ke depan lebih dari 50 orang. (Dalam hati, dia juga bisa mendapatkan angka 20 itu dari mana???? Dari Hongkong..?).
“Ayo mundur semua!!! Saya hanya ingin yang 20 orang tadi jam 9 datang duluan!!!..’
”Bapak jangan ngaku-ngaku datang duluan!!! Tadi bapak lihat saya gak???!! Kalau memang bapak datang jam 9..? Lihat saya gak??!!”
“Ibu jangan ngaku-ngaku!!! Jangan bohong.!!”
“Tadi saya hanya lihat 20 orang.. Tidak lebih!!!”
Entah apa lagi yang dia teriakkan sambil mengibas-ngibaskan tangannya karena ada beberapa orang yang berusaha merebut kartu dari genggamannya…
Adegan MENYEDIHKAN .. dan (maaf) agak TOLOL hadir di kantor sebuah lembaga negara yang dihormati (?)
Yang lucu, ada seorang bapak yang tampak bijak.  Dia juga mengaku datang jam 9.  Dia katakan, “Sudah Pak! Sampyan  kocok saja itu kartu. Lalu bagikan secara acak kepada kami.. Kami akan duduk di tempat duduk masing-masing..”  Kontan si klimis menyambar, “TIDAK BISA!!!”
Perdebatan terjadi sekitar 10 menit, dan entah bagaimana kelanjutannya, tiba-tiba kartu-kartu itu satu persatu berpindah tangan kepada orang-orang yang mengerumuninya.  Bisa jadi dia tidak tahan dikerumuni lebih banyak lagi (karena hari semakin siang, yang datang mulai semakin banyak, karena tidak tahu duduk persoalannya langsung ikut berkerumun bagai menonton tukang sulap).
Beberapa orang tampak tersenyum-senyum karena mendapat nomor awal.  Beberapa yang lainnya uring-uringan karena ada yang datang pagi sekali tapi dapat nomor yang “tidak adil”.
Betapa memilukan (sekaligus MEMALUKAN) potret pelayanan publik dari institusi pengambil duit rakyat terbesar yang bernama Direktorat Jendral Pajak.  Pelayanan yang miskin kreativitas dan mental bossy.  Kontras dengan upaya kesejahteraan mereka yang semakin wah: http://www.tempo.co/read/news/2015/03/22/087651841/Hore-Gaji-Pegawai-Pajak-Naik-Dua-Kali-Lipat
(atau.., bisa jadi ini pula yang menyebabkan sebagian mereka berlagak seperti “BOSS”. tidak semua memang. beberapa teman saya pegawai pajak banyak yang hidup sangat bersahaja)
Bagaimana dengan saya? Finally, saya juga dapat nomor 81  :)  (ambil terakhir setelah tidak ada yang rebutan lagi). Lumayan lah.. Open-mouthed smile

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s