Kisah Hakim yang Adil

Posted on Updated on

Kisah Hakim Adil yang memenangkan Nasrani melawan Khalifah Harun Ar Rasyid ini sangat meninspirasi.

Imam Abu Yusuf adalah salah seorang murid dan pewaris mazhab Abu Hanifah. Dan beliau
adalah qadhil qudhah (hakim agung) di zaman Khalifah Harun Ar Rasyid.
Beliau pernah mengadili antara Khalifah Harun Ar Rasyid dan seorang yang beragama Nashrani
dalam satu sengketa yang terjadi di antara mereka berdua.
Dalam perkara itu Abu Yusuf memenangkan orang Nashrani, dan Harun pada pihak yang
kalah. Karena memang terbukti kebenaran berpihak kepada orang Nashrani.
Ketika Abu Yusuf sudah hampir meninggal, beliau bermunajat:
“Ya Allah, Engkau Maha Tahu bahwa aku sudah menduduki jabatan ini. Aku tidak pernah cenderung kepada salah seorang dari dua orang
yang bersengketa walaupun di dalam hatiku. Kecuali ketika seorang Nashrani bersengketa dengan Harun Ar Rasyid. Aku tidak menyamakan di antara mereka berdua dalam perasaan. Karena aku berharap di dalam hatiku supaya kebenaran berada di pihak ArRasyid, sekalipun akhirnya  kumenangkan orang Nashrani itu, karena memang dia dalam posisi benar”.
Kemudian beliau menangis.
Lihatlah kisah ini dengan penuh pentadabburan, bermacam pelajaran kita dapatkan. Di antaranya:
1. Betapa cemasnya Abu Yusuf atas tindakan tidak adil yang beliau lakukan, sekalipun hanya di dalam perasaan, dan tidak mempengaruhi
kepada keputusan. Barangkali bagi kita perkara biasa bila beliau lebih cenderung kepada Ar Rasyid yang muslim dari pada lawannya yang beragama Nashrani.

Tapi tidak demikian dengan timbangan keadialan yang dipahami oleh Abu Yusuf.  Bila ukuran hakim adil itu seperti Abu Yusuf,
bagaimana kira-kira dengan hakim-hakim yang ada sekarang ini?
Bagi yang berprofesi sebagai hakim atau bercita-cita menjadi hakim, sangat perlu menempelkan kisah Abu Yusuf ini di keningnya.
Supaya jadi rem dan rambu-rambu ketika dia mengadili antara orang yang berkesumat.
2. Alangkah halusnya barometer dosa bagi seorang ulama sekaligus hakim seperti Abu Yusuf.  Hanya bisikan di dalam hati yang tidak
berdampak kepada perbuatan dianggap sebuah dosa yang akan memberatkan pertanggungjawabannya di akhirat kelak.
Alangkah bening dan bersihnya hati beliau.  Kita hari ini amat butuh kepada hakim-hakim adil seperti beliau yang mulia ini. Demi tegaknya keadialan dan kebenaran di permukaan bumi. Semoga rahmat Allah selalu tercurah buat  serta kita semua.

*Zulfi Akmal

Al-Azhar Cairo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s