Istirahat

Posted on Updated on

Sungguh kecenderungan istirahat telah lama menjadi musuh panjang. Ia hanyalah salah satu dari banyak rintangan (awa’iq) dan tikungan (muna’thafaat) di jalan dakwah dan keseluruhan perjuangan melakukan perbaikan. Rabun bashirah kadang datang, menyusul bartubi-tubinya cobaan. Kadang oleh kesibukan mendera. Bahkan tak jarang saat pundi-pundi mulai padat terisi. Atau buaian popularitas “semu” di panggung dakwah yang tak diarahkan menuju pemberdayaan umat, sebagai langkah lanjut. Pimpinan yang “tak tega” membebani anak buahnya dengan banyak tugas yang berat, atau anak buah yang “kasihan” melihat pemimpin mereka diuji dengan ujian yang tak terhindarkan, cenderung memilih pilihan santai.
Beberapa kader Imam Ahmad bin Hanbal menasehati beliau untuk mengambil keringanan (rukhshah) dengan mengiyakan secara lahir apa yang dimaui penguasa bahwa Al-Quran itu makhluk sedangkan hati tetap meyakininya sebagai firman Allah dan bukan makhluk. Imam Ahmad mengomentari pandangan mereka,”Kalau demikian jalan fikiranmu, maka sungguh engkau sudah istirahat.”
Ya, alangkah banyaknya ‘pemilik otak pensiun’ (Dzawil Uqulil Mustarihah). Saat beberapa orang Anshar mulai berfikir untuk mengurangi ritme jihad dengan berkonsentrasi ke ladang-ladang mereka, turun ayat teguran,”Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan….”(QS. Al Baqarah: 195). Koreksi ini diajukan sahabat Abu Ayub Al Anshari atas kesalahfahaman sejumlah pasukan Muslim di Konstantinopel yang berteriak-teriak ke arah seorang prajurit yang sendirian menyerbu ke barisan Rum,”Sungguh kau telah lemparkan dirimu ke dalam kebinasaan!” Abu Ayub sendiri hidup sampai usia 80 tahun dan dimakamkan di Konstantinopel. Hidup yang penuh berkah dan produktif.
Hanya 4 tahun berselang sesudah keadaan masyarakat Madinah mulai mapan dan senda gurau mulai berkembang, turun ayat menegur mereka dengan tajam, hal yang lazim dalam perlakuan Allah terhadap kader-kader pilihan, “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka) dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang fasik.”(QS. Al Hadid:16). ***

*Ust Rahmat Abdullah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s