Month: January 2012

Belajar Ikhlas (Taujih Qiyadah)

Posted on Updated on

1. Ikhlash itu, tak mengharap apa-apa dalam kebaikan, kecuali hanya dan hanya Allah swt.

2. Ikhlash itu, mengosongkan hati, mengusir semua gangguan yang menghalangi, mempersulit, mempersempit, jalan mencari ridha Allah swt.

3. Ikhlash itu, tidak mendengar penilaian orang, manusia, hamba. Sebab acuan nilainya hanya pada Allah swt.

4. Ikhlash itu, tidak dendam, gelisah, iri, dengki dengan manusia. Karena
duniawi tidak pantas di dendami, digelisahi, didengkikan.

5. Ikhlash itu, ketenangan hati, karena bersandar dan hanya mengandalkan Allah swt. Bukan yang lain.

6. Ikhlash itu, menerima apa yang terjadi dan menganggap itulah jalan
yang Allah beri agar hamba-Nya menjadi lebih baik.

7. Ikhlash itu, menyamakan amal dalam kondisi ramai, atau sepi, bersama atau sendiri, di hadapan orang lain atau tak ada orang.

8. Ikhlash itu, kunci keberkahan dalam waktu

9. Ikhlash itu, kunci kedamaian batin karena tak pernah larut oleh
kekecewaan, kebencian, keresahan.

9. Ikhlash itu, bila dipuji, merasa malu dan menangis (sendiri) karena
merasa tidak layak dipuji.

10. Ikhlash itu, egaliter, sejajar, tidak senioritas, tidak sombong, tidak elitis. Karena nilai orang bukan pada lahirnya.

11. Ikhlash itu, energi besar yang bisa memunculkan kemampuan
melakukan kerja besar.

12. Ikhlash itu, syarat husnul khatimah, akhir yang baik.

13. Ikhlash itu, seperti dua mata uang dengan amal yang benar. Tanpa salah satunya, tidak punya nilai apapun.

14. Ikhlash itu, siklus sikap yang tak pernah bertepi, tapi selalu
mendatangkan keluarbiasaan.

15. Ikhlash itu, sulit direkayasa, dan lebih merupakan hadiah dari Allah pada hati hamba-Nya.

16. Ikhlash itu, syarat suatu kebaikan bisa berlangsung kontinyu. Tanpa ikhlash, tidak ada istiqamah.

17. Ikhlash itu, membuka banyak pintu-pintu rizki.

18. Ikhlash itu, menjalani hidup dengan optimis, semangat, ceria. Toh tak ada yang dipikirkan kecuali demi ridha Allah swt. ***

*Ust Eka Hardiana

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Menerima Kekurangan

Posted on Updated on

Suatu ketika Kahlil Gibran bertanya pada gurunya:

Gibran : Bgmn caranya agar kita mendapatkan sesuatu yg paling sempurna dlm hidup?
Guru : Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yg paling indah menurutmu & jangan pernah kembali kebelakang.

Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Gibran kembali dg tangan hampa.

Lalu guru bertanya: Mengapa kamu tdk mendapatkan bunga 1 pun?
Gibran : Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya tapi aku tdk memetiknya karena aku pikir mungkin yg di depan pasti ada yg lbh indah, namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yg aku lihat tadi adalah yg terindah, dan aku pun tak bisa kembali kebelakang lagi!

Dgn tersenyum guru berkata:
“Ya, itulah hidup, semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya, krn sejatinya kesempurnaan yg hakiki tdk pernah ada, yg ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan”
*Pesan moralnya adalah:
Marilah kita sadari bahwa apa yg kita dapatkan hari ini adalah yg terbaik menurut Allah dan jangan pernah ragu, krn kesadaran itu akan menjadikan kita nikmat menjalani hidup ini. ***

Posted with WordPress for BlackBerry.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Menerima Kekurangan

Posted on Updated on

Suatu ketika Kahlil Gibran bertanya pada gurunya:

Gibran : Bgmn caranya agar kita mendapatkan sesuatu yg paling sempurna dlm hidup?
Guru : Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yg paling indah menurutmu & jangan pernah kembali kebelakang.

Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Gibran kembali dg tangan hampa.

Lalu guru bertanya: Mengapa kamu tdk mendapatkan bunga 1 pun?
Gibran : Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya tapi aku tdk memetiknya karena aku pikir mungkin yg di depan pasti ada yg lbh indah, namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yg aku lihat tadi adalah yg terindah, dan aku pun tak bisa kembali kebelakang lagi!

Dgn tersenyum guru berkata:
“Ya, itulah hidup, semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya, krn sejatinya kesempurnaan yg hakiki tdk pernah ada, yg ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan”
*Pesan moralnya adalah:
Marilah kita sadari bahwa apa yg kita dapatkan hari ini adalah yg terbaik menurut Allah dan jangan pernah ragu, krn kesadaran itu akan menjadikan kita nikmat menjalani hidup ini. ***

Posted with WordPress for BlackBerry.

Mutiasa Hadits: Jangan Terjerumus 2 Kali

Posted on Updated on

“Laa yuldaghul-mu’minu min juhrin waahidin marratayni”
Rasulullah saw bersabda,”seorang Mukmin tidak boleh terjerumus dua kali dalam satu lubang.”(HR.Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah ra).
Penilaian terhadap Hadits:
Hadits ini dishahihkan as-Suyuthi dalam Al-Jami’ush Shaghir (9985). Dishahihkan pula syaikh Nashiruddin Al-Albani dalam Shahihul Jami'(7779).
Nilai2 Ruhiyah:
Hadits ini mengisyaratkan agar kita mampu mengambil pelajaran dari setiap kesalahan yg kita lakukan, shg kita menjadi lebih baik dari sebelumnya.
1. Dg kesalahan yg pernah dilakukan, hendaknya seorang Muslim menyadari bhw kesempurnaan hanyalah milik ALLAH, shg ia lebih tawadhu’ di hadapan ALLAH dan seluruh makhluk-Nya. Dg ketawadhu’an inilah justru ia akan mendapatkan kemuliaan di sisi ALLAH dan di mata manusia. Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa merendahkan hati karena ALLAH, niscaya ALLAH akan meninggikannya.”(HR.Abu Nu’aim).
Dg ketawadhu’an inilah berarti ia telah memahami hakikat & hikmah yg besar mengapa seorang hamba melakukan perbuatan dosa. Rasulullah saw bersabda,”Seandainya kamu tdk berbuat dosa, maka aku mngkhawatirkan akan terjadi padamu sesuatu yg lebih parah dari dosa, yaitu bangga diri(sombong).”(Ash-Shahihah: 1382).
2. Dg kesalahan yg pernah dilakukan, hendaknya ia lebih bijaksana & santun dlm mnghadapi kesalahan yg dilakukan orang lain. Rasul saw brsabda,”tdk ada orang yg lebih santun drpd orang yg pernah berbuat salah, dan tdk ada orang yg lebih bijaksana drpd orang yg pernah mengalaminya sendiri.”(HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).
3. Hendaknya ia menyadari bhw tanpa rahmat & taufiK dari ALLAH, ia tdk akan dpt keluar dari jerat kesalahan. Karenanya, ia akan senantiasa menjaga dan memperbaiki sikap dan perilakunya agar mendapatkan limpahan rahmat. Dan taufik dari ALLAh. Firman-Nya,”Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih mampu. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dg (pertolongan) ALLAH. Hanya kepada ALLAH aku bertawakal dan hanya kpd-Nya aku kembali.”(QS.Hud:88). ***

*Ust Eka Hardiana

Posted with WordPress for BlackBerry.

Istirahat

Posted on Updated on

Sungguh kecenderungan istirahat telah lama menjadi musuh panjang. Ia hanyalah salah satu dari banyak rintangan (awa’iq) dan tikungan (muna’thafaat) di jalan dakwah dan keseluruhan perjuangan melakukan perbaikan. Rabun bashirah kadang datang, menyusul bartubi-tubinya cobaan. Kadang oleh kesibukan mendera. Bahkan tak jarang saat pundi-pundi mulai padat terisi. Atau buaian popularitas “semu” di panggung dakwah yang tak diarahkan menuju pemberdayaan umat, sebagai langkah lanjut. Pimpinan yang “tak tega” membebani anak buahnya dengan banyak tugas yang berat, atau anak buah yang “kasihan” melihat pemimpin mereka diuji dengan ujian yang tak terhindarkan, cenderung memilih pilihan santai.
Beberapa kader Imam Ahmad bin Hanbal menasehati beliau untuk mengambil keringanan (rukhshah) dengan mengiyakan secara lahir apa yang dimaui penguasa bahwa Al-Quran itu makhluk sedangkan hati tetap meyakininya sebagai firman Allah dan bukan makhluk. Imam Ahmad mengomentari pandangan mereka,”Kalau demikian jalan fikiranmu, maka sungguh engkau sudah istirahat.”
Ya, alangkah banyaknya ‘pemilik otak pensiun’ (Dzawil Uqulil Mustarihah). Saat beberapa orang Anshar mulai berfikir untuk mengurangi ritme jihad dengan berkonsentrasi ke ladang-ladang mereka, turun ayat teguran,”Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan….”(QS. Al Baqarah: 195). Koreksi ini diajukan sahabat Abu Ayub Al Anshari atas kesalahfahaman sejumlah pasukan Muslim di Konstantinopel yang berteriak-teriak ke arah seorang prajurit yang sendirian menyerbu ke barisan Rum,”Sungguh kau telah lemparkan dirimu ke dalam kebinasaan!” Abu Ayub sendiri hidup sampai usia 80 tahun dan dimakamkan di Konstantinopel. Hidup yang penuh berkah dan produktif.
Hanya 4 tahun berselang sesudah keadaan masyarakat Madinah mulai mapan dan senda gurau mulai berkembang, turun ayat menegur mereka dengan tajam, hal yang lazim dalam perlakuan Allah terhadap kader-kader pilihan, “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka) dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang fasik.”(QS. Al Hadid:16). ***

*Ust Rahmat Abdullah