Urgensi Amal dan Mengakhiri Ketidakberdayaan

Posted on Updated on

Sesungguhnya penegakkan agama Allah di atas bumi merupakan perkara yang mulia dan besar. Amal itu merupakan amal para Nabi, Rasul dan para Reformasi (MUSHLIH), dalam kafilah penuh cahaya yang panjang sejak Nabi Adam sampai hari kiamat. Orang yang tergabung dalam kelompok itu akan mendapatkan kemuliaan besar, sedangkan orang yang tertinggal dari kelompok itu terlewatkan banyak kebaikan.
Allah memberi orang-orang yang beramal kecukupan yang besar di dunia dan akhirat. Allah menguatkan dan menolong mereka di dunia, mengikat hati mereka, menyinari jalan mereka dan menghalau godaan setan. Allah berfirman,”Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan mnlongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”(QS;Muhammad[47]:7).
Sedang di akhirat derajat-derajat tinggi dikhususkan untuk mereka, berteman dengan para Nabi merupakan ganjaran mereka, melihat Dzat Tuhan secara berulang-ulang merupakan nikmat paling besar yang bisa mereka nikmati di surga.
Ketahuilah, orang yang beramal itu tidak lain beramal untuk dirinya sendiri demi mencari kebaikan dan derajat yang tinggi. Dan orang tak berdayaguna itu tidak lain menganiaya diri sendiri dengan menyia-nyiakan kebaikan dan martabat.
Allah SWT berfirman,”Dan barangsiapa yang beramal shaleh maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan tenpat yang menyenangkan.”(QS;Ar-Rum[30]:44).
Orang yang beramal akan diganjar oleh Allah, akan melihat hasil amalnya, serta berbahagia di dunia sebelum di akhirat nanti. Allah berfirman, “Dan katakanlah,’Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu’.” (Qs;At-Taubah[9]:105).
Kehidupan orang tak berdayaguna selalu berada antara malas, kejemuan, was-was, tidak menentu arah, tertekan dan gampang rapuh, hingga ajal menjemput pun keberadaanya tetap tidak berubah. Sedangkan orang beramal adalah orang yang menentukan jalannya sejarah dan yang menyediakan lembaran-lembaran sejarah untuk mencatat riwayat hidup dan peninggalan-peninggalannya. Sedangkan TSIQAH(baca:Orang yang diberi kepercayaan oleh orang lain, dalam hal agama, perilaku, dan akal. Kepercayaan ini diberikan karena dianggap mampu atau memiliki kelayakan yang mencukupi untuk diserahi tugas. Sedangkan dalam bidang dakwah di jalan Allah SWT, kelayakan itu berarti mampu menangani berbagai tugas dakwah ilallah di setiap tahapan) yang tak berdayaguna hidup di pinggir lembaran sejarah. Ia tidak mengetahui bagaimana cara membaca segala kejadian dan mengambil faedah dari kejadian itu, alih-alih mempengaruhinya. Ia terpaku di tempatnya hingga ajal menjemputnya, tanpa seorang pun mengenal dirinya, tanpa ada penduduk langit atau pun bumi menangisi kepergiannya.
Orang yang mengamati segala peristiwa sejarah semenjak Nabi Adam as. hingga zaman kita sekarang, pasti meyakini tidak ada tempat bagi orang yang tak berdayaguna di dalm sejarah. Lain halnya bagi oang-orang tsiqah yang beramal; mereka saling berkompetisi dalam mencapai puncak kemuliaan, yaitu keridhaan Allah SWT.
(Kitab “Ajzuts-Tsiqat, karya Dr. Muhammad bin Hasan bin Aqil Musa Syarif) ***

*Ust Eka Hardiana

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s