Month: December 2011

Selamat Hari Ibu (postingnya telat ;) )

Posted on Updated on

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ
Ada seorang lelaki datang menemui Rasulullah seraya berkata : Wahai Rasulullah siapa orang yang paling pantas aku berbuat baik padanya? Rasulullah berkata : Ibumu! Lelaki bertanya kembali : Lalu siapa? Rasulullah menjawab: Ibumu! Lalu siapa? Ibumu! Lalu siapa? Baru ayahmu! (Muttafaqun alaihi). ***

*Ust Eka Hardiana

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Guru Kehidupan

Posted on Updated on

Ada murid dapat belajar hanya dari guru yang ber-SK, disuapi ilmu dan didikte habis-habisan. Ada yang cukup belajar dari katak yang melompat atau angin yang berhembus pelan lalu berubah menjadi badai yang memporak-porandakan kota dan desa. Ada yang belajar dari apel yang jatuh di samping bulan yang menggantung di langit tanpa tangkai itu. Ada guru yang banyak berkata tanpa berbuat. Ada yang lebih pandai berbuat daripada berkata. Ada yang memadukan kata dan perbuatan. Yang istimewa di antara mereka, bila “melihatnya engkau langsung ingat Allah, ucapannya akan menambah amalmu dan amalnya membuat semakin cinta akhirat (khiyarukum man dzakkarakum billahi ru’yatuh wa zada fi ‘amalikum mantiquh waragghabakum fil akhirati ‘amaluh)”.
Yang tak dapat belajar dari guru alam dan dinamika lingkungannya, sangat tak berpotensi belajar dari guru manusia. Yang tak dapat mengambil ibrah dari pelajaran orang lain, harus mengambilnya dari pengalaman sendiri, dan untuk itu ia harus membayar mahal. Bani Israil bergurukan Nabi Musa As, salah satu Ulul Azmi para Rasul dengan azam berdosis tinggi. Bahkan leluhur mereka Nabi-Nabi yang dikirim silih berganti. Apa yang kurang? Ibarat meniup tungku, bila masih ada api di bara, kayu bakar itu akan menyala, tetapi apa yang kau hasilkan dari tumpukan abu dapur tanpa setitik api, selain kotoran yang memenuhi wajahmu? ***

*Ust Rahmat Abdullah

Posted with WordPress for BlackBerry.

Kisah Seorang Imam Masjid di London

Posted on Updated on

Seorang imam masjid di London, setiap hari pergi pulang dari rumahnya ke masjid dengan mengendarai bus umum. Ongkos bus tersebut dibayar pakai kartu (card), atau langsung ke sopir karena bus tidak memiliki kondektur. Setelah bayar, baru kemudian cari tempat duduk kosong.
Sang imam pun bayar ongkos pada sopir lalu menerima kembalian, sebab hari itu ia tidak punya uang pas… baru kemudian duduk di bangku belakang yg kosong.
Di tempat duduknya dia menghitung uang kembalian dari sopir yang ternyata lebih 20 sen. Sejenak iapun terpikir, “uang ini dikembalikan atau tidak yah..? Ah cuma 20 sen ini… ah dia (sopir) orang kafir ini… atau aku masukin saja ke kotak amal di masjid…??”
Setelah sampai di tempat tujuan, ia pun hendak turun bus dengan berjalan melewati sopir bus tersebut. Dalam hatinya masih bergejolak atas uang 20 sen itu, antara dikembalikan atau tidak. Namun ketika sampai di dekat sopir, spontan ia pun mengulurkan 20 sen sambil berkata: “Uang kembaliannya berlebih 20 sen”.
Tanpa disangka tanpa dinyana sopir itu mengacungkan jempol seraya berkata:
“Anda berhasil..!!!”
“Apa maksud anda..?” Tanya imam masjid.
“Bukankah anda imam masjid yang di sana tadi?” Tanya sopir.
“Betul” jawabnya
Lantas sopir itu berkata,
“Sebenarnya sejak beberapa hari ini saya ingin datang ke masjid anda untuk belajar dan memeluk Islam, tapi timbul keinginan di hati saya untuk menguji anda sebagai imam masjid, apa benar Islam itu seperti yang saya dengar: jujur, amanah dan sebagainya. Saya sengaja memberikan kembalian berlebih dan anda berhasil. Saya akan masuk Islam,” kata sopir tersebut.
Alangkah tercengangnya imam masjid tersebut, sambil beristighfar menyesali apa yg dipikirkannya tadi. Hampir saja ia kehilangan kepercayaan hanya dengan uang 20 sen itu. Astaghfirullah…
Semoga jadi pelajaran buat kita untuk sentiasa bersikap sebagai seorang muslim sejati di mana saja, kapan saja dan di hadapan siapa saja… ***

*sharing dari sebuah milis

Posted with WordPress for BlackBerry.

Mutiara Hikmah dari Imam Syafi’i

Posted on Updated on

إذا رمت أن تحيا سليماً من الردى
ودينك موفور وعرضك صين
فلا ينطقن منك اللسان بسوأةٍ
فكلك سوؤات وللناس السن
وعيناك إن أبدت إليك معايباً         فدعها وقل يا عين للناس أعين
وعاشر بمعروفٍ وسامح من اعتدى
ودافع ولكن بالتي هي أحسن

ديوان الإمام الشافعي / 114
المخلاة / 130
Jika engkau ingin hidup tanpa kehinaan…
Agama dan kehormatanmu senantiasa terjaga.
Maka janganlah terucap darimu keburukan seseorang…
Karena setiap yg ada padamu adalah aib dan manusia memiliki lisan.
Jika matamu menampakkan padamu aib-aib orang lain…
Tinggalkanlah… dan katakan pada dirimu mereka juga punya mata.
Dan bergaullah engkau dengan baik, serta maafkan orang yg dzalim pdmu….
Boleh engkau lawan orang dzalim itu namun dengan cara yg lebih bijak. ***

*Ust Iskandar Zulkarnain

Posted with WordPress for BlackBerry.

Menjaga Ukhuwah

Posted on Updated on

“Seorang da’i mutlak harus dicintai oleh khalayak agar dakwahnya mampu menembus nurani dan tetap menjadi rujukan. Oleh karenanya, ia harus menghindari segala sesuatu yang dapat mencemari kejernihan hubungan yang terjalin antara dirinya dan orang-orang di sekitarnya, sehingga ukhuwah semakin mendalam dan kokoh. Semua itu dapat memudahkan sang da’i sehingga orang-orang senang menolong dirinya, mau memetik manfaat darinya dan antusias menerima kehadirannya.”
(Kitab fi Riyadhil Ukhuwah—Mufsidatul Ukhuwah, karya Syaikh Abu ‘Ashim Hisyam bin Abdul Qadr ‘Uqdah) ***

*Ust Eka Hardiana

Posted with WordPress for BlackBerry.

Menjaga Ukhuwah

Posted on Updated on

“Seorang da’i mutlak harus dicintai oleh khalayak agar dakwahnya mampu menembus nurani dan tetap menjadi rujukan. Oleh karenanya, ia harus menghindari segala sesuatu yang dapat mencemari kejernihan hubungan yang terjalin antara dirinya dan orang-orang di sekitarnya, sehingga ukhuwah semakin mendalam dan kokoh. Semua itu dapat memudahkan sang da’i sehingga orang-orang senang menolong dirinya, mau memetik manfaat darinya dan antusias menerima kehadirannya.”
(Kitab fi Riyadhil Ukhuwah—Mufsidatul Ukhuwah, karya Syaikh Abu ‘Ashim Hisyam bin Abdul Qadr ‘Uqdah) ***

*Ust Eka Hardiana

Posted with WordPress for BlackBerry.

WAKTU

Posted on Updated on

Waktu adalah pedang tajam. Bila engkau tak memby-passnya, ia akan memby-passmu. Bahkan menurut Imam Syafii, seandainya Allah tidak menurunkan surat lain selain surat Al-Ashr (QS:102), niscaya itu saja sudah cukup,”Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling berwasiat dalam kebenaran dan saling berwasiat dalam kesabaran”. Jadi, bila Ia sudah bersumpah dengan sesuatu -dan itu tidak boleh dilakukan oleh hamba-Nya- maka artinya betapa penting peran yang dijadikan sumpah itu.
Bumi telah berputar mengitari matahari 24 jam dalam sehari, 365 hari dalam setahun, atau apapun nama satuan waktu itu.
Saat ibrahim AS mengayunkan langkah demi langkah dari utara menuju selatan, “lembah yang tak bertanaman disisi Rumah-Nya yang dihormati” (QS. Ibrahim:37), meninggalkan istri dan putera tercinta yang belum kunjung lahir, kecuali sesudah menempuh waktu 85 tahun.
Berapa lama waktu berputar saat Ibnu Taimiyah mendiktekan fatwa-fatwanya atau menuliskan teori-teorinya dengan arang api unggun pengusir dingin yang dinyalakan para murid setia yang menjagai penjaranya. Puluhan jilid fatawa yang kini hadir dalam kemasan cetak modern, menghapuskan gambaran kelelahan poses menumbuhkannya.
Ajaib, konon waktu menuntun dan menuntut. Menuntun orang yang bertindak benar di waktu yang benar dan pada tempat yang benar. Menuntut bila prinsip-prinsip tersebut dilanggar. Bukan lama waktu yang menentukan kebesaran seseorang. Ada orang hidup lebih dari satu abad, tetapi biografinya selesai ditulis dalam tiga baris di batu nisan: nama, tanggal, bulan serta tahun lahir dan wafat.
Berapa lama Rasulullah hidup di dunia? Enam puluh tiga tahun. Selesaikah orang menulis dan menggali sejarahnya? Belum lagi, karena ia mewakili seluruh efisiensi, efektifitas dan produktifitas waktu. Bingkai waktu tak berubah saat Thariq bin Ziyad menyeberangkan kapal-kapal perangnya, menantang pasukannya untuk mati di lautan atau hidup mulia membela kaum tertindas. Delapan abad waktu merambat , seperti tak terjadi apa-apa, sampai sultan terakhir Bani Ahmar dengan sedih meninggalkan tanah Andalus menuju pembuangan di Afrika Selatan.
Dalam bingkai yang sama waktu merambat di kepengapan jeruji besi tempat Marwan Hadid disiksa sebelum di bunuh, atau tiang gantungan yang mengabadikan nama Syaikh Umar Al-Mukhtar, Sayid Quthb dan Abdul Qadir Audah. ***

*Ust Rahmat Abdullah

Posted with WordPress for BlackBerry.