2015 in review

Posted on Updated on

Blog ini belum terkelola dengan baik. Adakah 2016 daku bisa lebih rajin menulis? 🙂

Here’s an excerpt:

A San Francisco cable car holds 60 people. This blog was viewed about 580 times in 2015. If it were a cable car, it would take about 10 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Anak-Anak Karbitan

Posted on

Tulisan lama yang terus membuat saya sering merenung dan berintrospeksi. Ditulis oleh seorang yang aktif di dunia pendidikan: Ibu Dewi Faizah..

Selengkapnya:

Anak-anak yang digegas Menjadi cepat mekar Cepat matang Cepat layu…

Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana mana orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan yang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka pelayanan pendidikan yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa, di kota hingga ke desa. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat. Tawaran berbagai macam bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat membuat otak anak cerdas dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa, hingga fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut kegairahan. Penuh tawaran yang menggiurkan yang terkadang menguras isi kantung orangtua …

Captive market! Kondisi diatas terlihat biasa saja bagi orang awam. Namun apabila kita amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di intenet dan lileratur yang ada tentang bagaimana pendidikan yang patut bagi anak usia dini, maka kita akan terkejut! Saat ini hampir sebagian besar penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak usia dini melakukan kesalahan. Di samping ketidakpatutan yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidak tahuannya!

Anak-Anak Yang Digegas…

Ada beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidakpatutan terhadap anak. Diantaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuan intelektual secara dini. Akibatnya bermunculanlah anak-anak ajaib dengan kepintaran intelektual luar biasa. Mereka dicoba untuk menjalani akselerasi dalam pendidikannya dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan akademik di dalam dan di luar sekolah. Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar karbitan ini terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker. Terjadi pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra seorang psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard College walaupun usianya masih 11 tahun. Kecerdasannya di bidang matematika begitu mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi berbagai media masa. Namun apa yang terjadi kemudian? James Thurber, seorang wartawan terkemuka, pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak lain adalah William James Sidis. Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat orang banyak berdecak kagum pada beberapa waktu silam.

Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi pada seorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952, di mana seorang Ibu yang bernama Aaron Stern telah berhasil melakukan eksperimen menyiapkan lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan kognitif anaknya, sejak si anak masih berupa janin. Baru saja bayi itu lahir ibunya telah memperdengarkan suara musik klasik di telinga sang bayi. Kemudian diajak berbicara dengan menggunakan bahasa orang dewasa. Setiap saat sang bayi dikenalkan kartu-kartu bergambar dan kosa kata baru. Hasilnya sungguh mencengangkan! Di usia 1 tahun Edith telah dapat berbicara dengan kalimat sempurna. Di usia 5 tahun Edith telah menyelesaikan membaca ensiklopedi Britannica. Usia 9 tahun ia membaca enam buah buku dan Koran New York Times setiap harinya. Usia 12 tahun dia masuk universitas. Ketika usianya menginjak 15 tahun la menjadi guru matematika di Michigan State University. Aaron Stem berhasil menjadikan Edith anak jenius karena terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga.

Namun khabar Edith selanjutnya juga tidak terdengar lagi ketika ia dewasa. Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa. Berbeda dengan banyak kasus legendaris orang-orang terkenal yang berhasil mengguncang dunia dengan penemuannya. Di saat mereka kecil mereka hanyalah anak-anak biasa yang terkadang juga dilabel sebagai murid yang dungu.

Seperti halnya Einstien yang mengalami kesulitan belajar hingga kelas 3 SD. Dia dicap sebagai anak bebal yang suka melamun. Selama berpuluh-puluh tahun orang begitu yakin bahwa keberhasilan anak di masa depan sangat ditentukan oleh faktor kognitif. Otak memang memiliki kemampuan luar biasa yang tiada berhingga. Oleh karena itu banyak orangtua dan para pendidik tergoda untuk melakukan “Early Childhood Training”. Era pemberdayaan otak mencapai masa keemasannya. Setiap orangtua dan pendidik berlomba-lomba menjadikan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang super (Superkids). Kurikulum pun dikemas dengan muatan 90 % bermuatan kognitif yang mengfungsikan belahan otak kiri. Sementara fungsi belahan otak kanan hanya mendapat porsi 10% saja. Ketidakseimbangan dalam memfungsikan ke dua belahan otak dalam proses pendidikan di sekolah sangat mencolok. Hal ini terjadi sekarang di mana-mana, di Indonesia.

“Early Ripe, early Rot…!”

Gejala ketidakpatutan dalam mendidik ini mulai terlihat pada tahun 1990 di Amerika. Saat orangtua dan para professional merasakan pentingnya pendidikan bagi anak-anak semenjak usia dini. Orangtua merasa apabila mereka tidak segera mengajarkan anak-anak mereka berhitung, membaca dan menulis sejak dini maka mereka akan kehilangan “peluang emas” bagi anak-anak mereka selanjutnya. Mereka memasukkan anak-anak mereka sesegera mungkin ke Taman Kanak-kanak (Pra Sekolah). Taman Kanak-kanak pun dengan senang hati menerima anak-anak yang masih berusia di bawah usia 4 tahun. Kepada anak-anak ini gurunya membelajarkan membaca dan berhitung secara formal sebagai pemula.

Terjadinya kemajuan radikal dalam pendidikan usia dini di Amerika sudah dirasakan saat Rusia meluncurkan Sputnik pada tahun 1957. Mulailah “Era Headstart” merancah dunia pendidikan. Para akademisi begitu optimis untuk membelajarkan wins dan matematika kepada anak sebanyak dan sebisa mereka (tiada berhingga). Sementara mereka tidak tahu banyak tentang anak, apa yang mereka butuhkan dan inginkan sebagai anak.

Puncak keoptimisan era Headstart diakhiri dengan pernyataan Jerome Bruner, seorang psikolog dari Harvard University yang menulis sebuah buku terkenal “The Process of Education” pada tahun 1990. Ia menyatakan bahwa kompetensi anak untuk belajar sangat tidak berhingga. Inilah buku suci pendidikan yang mereformasi kurikulum pendidikan di Amerika . “We begin with the hypothesis that any subject can be taught effectively in some intellectually honest way to any child at any stage of development”.

Inilah kalimat yang merupakan hipotesis Bruner yang di salahartikan oleh banyak pendidik, yang akhirnya menjadi bencana! Pendidikan dilaksanakan dengan cara memaksa otak kiri anak sehingga membuat mereka cepat matang dan cepat busuk… early ripe, early rot!

Anak-anak menjadi tertekan. Mulai dari tingkat pra sekolah hingga usia SD. Di rumah para orangtua kemudian juga melakukan hal yang sama, yaitu mengajarkan sedini mungkin anak-anak mereka membaca ketika Glenn Doman menuliskan kiat-kiat praktis membelajarkan bayi membaca.

Bencana berikutnya datang saat Arnold Gesell memaparkan konsep “kesiapan-readiness ” dalam ilmu psikologi perkembangan temuannya yang mendapat banyak decakan kagum. Ia berpendapat tentang “biological limititations on learning’. Untuk itu ia menekankan perlunya dilakukan intervensi dini dan rangsangan inlelektual dini kepada anak agar mereka segera siap belajar apapun.

Tekanan yang bertubi-tubi dalam memperoleh kecakapan akademik di sekolah membuat anak-anak menjadi cepat mekar. Anak -anak menjadi “miniature orang dewasa “. Lihatlah sekarang, anak-anak itu juga bertingkah polah sebagaimana layaknya orang dewasa. Mereka berpakaian seperti orang dewasa, berlaku pun juga seperti orang dewasa. Di sisi lain media pun merangsang anak untuk cepat mekar terkait dengan musik, buku, film, televisi, dan internet. Lihatlah maraknya program teve yang belum pantas ditonton anak anak yang ditayangkan di pagi atau pun sore hari. Media begitu merangsang keingintahuan anak tentang dunia seputar orang dewasa. sebagai seksual promosi yang menyesatkan. Pendek kata media telah memekarkan bahasa, berpikir dan perilaku anak tumbuh kembang secara cepat.

Tapi apakah kita tahu bagaimana tentang emosi dan perasaan anak? Apakah faktor emosi dan perasaan juga dapat digegas untuk dimekarkan seperti halnya kecerdasan? Perasaan dan emosi ternyata memiliki waktu dan ritmenya sendiri yang tidak dapat digegas atau dikarbit. Bisa saja anak terlihat berpenampilan sebagai layaknya orang dewasa, tetapi perasaan mereka tidak seperti orang dewasa. Anak-anak memang terlihat tumbuh cepat di berbagai hal tetapi tidak di semua hal. Tumbuh mekarnya emosi sangat berbeda dengan tumbuh mekarnya kecerdasan (intelektual) anak. Oleh karena perkembangan emosi lebih rumit dan sukar, terkait dengan berbagai keadaan, Cobalah perhatikan, khususnya saat perilaku anak menampilkan gaya “kedewasaan “, sementara perasaannya menangis berteriak sebagai “anak”.

Seperti sebuah lagu popular yang pernah dinyanyikan suara emas seorang anak laki-laki “Heintje” di era tahun 70-an… I’m Nobody’S Child I’M NOBODY’S CHILD I’M nobody’s child I’m nobodys child Just like a flower I’m growing wild No mommies kisses and no daddy’s smile Nobody’s louch me I’m nobody’s child.

Dampak berikutnya terjadi … ketika anak memasuki usia remaja. Akibat negatif lainnya dari anak-anak karbitan terlihat ketika ia memasuki usia remaja. Mereka tidak segan segan mempertontonkan berbagai macam perilaku yang tidak patut. Patricia O’Brien menamakannya sebagai “The Shrinking of Childhood”. Lu belum tahu ya… bahwa gue telah melakukan segalanya”, begitu pengakuan seorang remaja pria berusia 12 tahun kepada teman-temannya. “Gue tahu apa itu minuman keras, drug, dan seks ” serunya bangga.

Berbagai kasus yang terjadi pada anak-anak karbitan memperlihatkan bagaimana pengaruh tekanan dini pada anak akan menyebabkan berbagai gangguan kepribadian dan emosi pada anak. Oleh karena ketika semua menjadi cepat mekar…. kebutuhan emosi dan sosial anak jadi tak dipedulikan! Sementara anak sendiri membutuhkan waktu untuk tumbuh, untuk belajar dan untuk berkembang, sebuah proses dalam kehidupannya !

Saat ini terlihat kecenderungan keluarga muda lapisan menengah ke atas yang berkarier di luar rumah tidak memiliki waktu banyak dengan anak-anak mereka. Atau pun jika si ibu berkarier di dalam rumah, ia lebih mengandalkan tenaga “baby sitter” sebagai pengasuh anak-anaknva. Colette Dowling menamakan ibu-ibu muda kelompok ini sebagai “Cinderella Syndrome” yang senang window shopping, ikut arisan, ke salon memanjakan diri, atau menonton telenovela atau buku romantis. Sebagai bentuk ilusi menghindari kehidupan nyata yang mereka jalani.

Kelompok ini akan sangat bangga jika anak-anak mereka bersekolah di lembaga pendidikan yang mahal, ikut berbagai kegiatan kurikuler, ikut berbagai Les, dan mengikuti berbagai arena, seperti lomba penyanyi cilik, lomba model ini dan itu. Para orangtua ini juga sangat bangga jika anak-anak mereka superior di segala bidang, bukan hanya di sekolah. Sementara orangtua yang sibuk juga mewakilkan diri mereka kepada baby sitter terhadap pengasuhan dan pendidikan anak-anak mereka. Tidak jarang para baby sitter ini mengikuti pendidikan parenting di lembaga pendidikan eksekutif sebagai wakil dari orang tua.

ERA SUPERKIDS

Kecenderungan orangtua menjadikan anaknva “be special ” daripada “be average or normal” semakin marak terlihat. Orangtua sangat ingin anak-anak mereka menjadi “to excel to be the best”. Sebetulnya tidak ada yang salah. Namun ketika anak-anak mereka digegas untuk mulai mengikuti berbagai kepentingan orangtua untuk menyuruh anak mereka mengikuti beragam kegiatan, seperti kegiatan mental aritmatik, sempoa, renang, basket, balet, tari ball, piano, biola, melukis, dan banyak lagi lainnya…maka lahirlah anak-anak super—“SUPERKIDS’ “. Cost merawat anak superkids ini sangat mahal.

Era Superkids berorientasi kepada “Competent Child”. Orangtua saling berkompetisi dalam mendidik anak karena mereka percaya “earlier is better”. Semakin dini dan cepat dalam menginvestasikan beragam pengetahuan ke dalam diri anak mereka, maka itu akan semakin baik. Neil Posmant seorang sosiolog Amerika pada tahun 80-an meramalkan bahwa jika anak-anak tercabut dari masa kanak-kanaknya, maka lihatlah… ketika anak anak itu menjadi dewasa, maka ia akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan!

BERBAGAI GAYA ORANGTUA

Kondisi ketidakpatutan dalam memperIakukan anak ini telah melahirkan berbagai gaya orangtua (Parenting Style) yang melakukan kesalahan “mis-education” terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya. Elkind (1989) mengelompokkan berbagai gaya orangtua dalam pengasuhan, antara lain:

Gourmet Parents– (ORTU B0RJU)

Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah bagus, mobil mewah, liburan ke tempat-tempat yang eksotis di dunia, dengan gaya hidup kebarat baratan. Apabila menjadi orangtua maka mereka akan cenderung merawat anak-anaknya seperti halnya merawat karier dan harta mereka. Penuh dengan ambisi! Berbagai macam buku akan dibaca karena ingin tahu isu-isu mutakhir tentang cara mengasuh anak. Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang baik seperti halnya membangun karier, maka “superkids” merupakan bukti dari kehebatan mereka sebagai orangtua. Orangtua kelompok ini memakaikan anak-anaknya baju-baju mahal bermerek terkenal, memasukkannya ke dalam program-program eksklusif yang prestisius. Keluar masuk restoran mahal. Usia 3 tahun anak-anak mereka sudah diajak tamasya keliling dunia mendampingi orangtuanya. Jika suatu saat kita melihat sebuah sekolah yang halaman parkirnya dipenuhi oleh berbagai merek mobil terkenal, maka itulah sekolah banyak kelompok orangtua “gourmet ” atau kelompok borju menyekolahkan anak-anaknya.

College Degree Parents — (ORTU INTELEK )
Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah ke atas. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Sering melibatkan diri dalam barbagai kegiatan di sekolah anaknya. Misalnya membantu membuat majalah dinding dan kegiatan ekstra kurikular lainnya. Mereka percaya pendidikan yang baik merupakan pondasi dari kesuksesan hidup. Terkadang mereka juga tergiur menjadikan anak-anak mereka “Superkids “, apabila si anak memperlihatkan kemampuan akademik yang tinggi. Terkadang mereka juga memasukkan anak-anaknya ke sekolah mahal yang prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya bahwa pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas. Kelebihan kelompok ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di sekolah anak anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak membantu dan peduli dengan kondisi sekolah.

Gold Medal Parents –(ORTU SELEBRITIS )
Kelompok ini adalah kelompok orangtua yang menginginkan anak-anaknya menjadi kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering mengikutkan anaknya ke berbagai kompetisi dan gelanggang. Ada gelanggang ilmu pengetahuan seperti Olimpiade matematika dan sains yang akhir-akhir ini lagi marak di Indonesia . Ada juga gelanggang seni seperti ikut menyanyi, kontes menari, terkadang kontes kecantikan. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anak-anaknya dapat meraih kemenangan dan menjadi “seorang Bintang Sejati “. Sejak dini mereka persiapkan anak-anak mereka menjadi “Sang Juara”, mulai dari juara renang, menyanyi dan melukis hingga none abang cilik kelika anak-anak mereka masih berusia TK.

Sebagai ilustrasi dalam sebuah arena lomba ratu cilik di Padang puluhan anak-anak TK baik laki-laki maupun perempuan tengah menunggu di mulainya lomba pakaian adat. Ruangan yang sesak, penuh asap rokok, dan acara yang molor menunggu datangnya tokoh anak dari Jakarta. Anak-anak mulai resah, berkeringat, mata memerah karena keringat melelehi mascara anak kecil mereka. Para orangtua masih bersemangat, membujuk anak-anaknya bersabar.

Mengharapkan acara segera di mulai dan anaknya akan kelular sebagai pemenang. Sementara pihak penyelenggara mengusir panas dengan berkipas kertas. Banyak kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku ambisi kelompok gold medal parents ini. Sebagai contoh pada tahun 70-an seorang gadis kecil pesenam usia TK mengalami kelainan tulang akibat ambisi ayahnya yang guru olahraga. Atau kasus “bintang cilik” Yoan Tanamal yang mengalami tekanan hidup dari dunia glamour masa kanak-kanaknya. Kemudian menjadikannya pengguna dan pengedar narkoba hingga menjadi penghuni penjara. Atau bintang cilik dunia Heintje yang setelah dewasa hanya menjadi pasien dokter jiwa. Gold medal parent menimbulkan banyak bencana pada anak-anak mereka!

Pada tanggal 29 Mei lalu kita saksikan di TV bagaimana bintang cilik “Joshua” yang bintangnya mulai meredup dan mengkhawatirkan orangtuanya. Orangtua Joshua berambisi untuk kembali menjadikan anaknya seorang bintang dengan kembali menggelar konser tunggal. Sebagian dari kita tentu masih ingat bagaimana lucu dan pintarnya Joshua ketika berumur kurang 3 tahun. Dia muncul di TV sebagai anak ajaib karena dapat menghapal puluhan nama-nama kepala negara. Kemudian di usia balitanya dia menjadi penyanyi cilik terkenal. Kita kagum bagaimana seorang bapak yang tamatan SMU dan bekerja di salon dapat membentuk dan menjadikan anaknya seorang “superkid” –seorang penyanyi sekaligus seorang bintang film….

Do-it Yourself Parents
Merupakan kelompok orangtua yang mengasuh anak-anaknya secara alami dan menyatu dengan semesta. Mereka sering menjadi pelayan professional di bidang sosial dan kesehatan, sebagai pekerja sosial di sekolah, di tempat ibadah, di Posyandu dan di perpustakaan. Kelompok ini menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang tidak begitu mahal dan sesuai dengan keuangan mereka. Walaupun begitu kelompok ini juga bemimpi untuk menjadikan anak-anaknya “Superkids” –earlier is better”. Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka diajak mencintai lingkungannya. Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan atau tumbuhan yang mereka sukai. Kelompok ini merupakan kelompok penyayang binatang, dan mencintai lingkungan hidup yang bersih.

Outward Bound Parents— (ORTU PARANOID)
Untuk orangtua kelompok ini mereka memprioritaskan pendidikan yang dapat memberi kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan mereka sederhana, agar anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh dengan permusuhan. Dunia di luar keluarga mereka dianggap penuh dengan marabahaya. Jika mereka menyekolahkan anak-anaknya maka mereka lebih memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati tempat tempat tawuran yang berbahaya. Seperti halnya Do It Yourself Parents, kelompok ini secara tak disengaja juga terkadang terpengaruh dan menerima konsep “Superkids”. Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang hebat agar dapat melindungi diri mereka dari berbagai macam marabahaya. Terkadang mereka melatih kecakapan melindungi diri dari bahaya, seperti memasukkan anak-anaknya “Karate, Yudo, pencak Silat” sejak dini. Ketidakpatutan pemikiran kelompok ini dalam mendidik anak-anaknya adalah bahwa mereka terlalu berlebihan melihat marabahaya di luar rumah tangga mereka, mudah panik dan ketakutan melihat situasi yang selalu mereka pikir akan membawa dampak buruk kepada anak. Akibatnya anak-anak mereka menjadi “steril” dengan lingkungannya.

Prodigy Parents –(ORTU INSTANT)
Merupakan kelompok orangtua yang sukses dalam karier namun tidak memiliki pendidikan yang cukup. Mereka cukup berada, namun tidak berpendidikan yang baik. Mereka memandang kesuksesan mereka di dunia bisnis merupakan bakat semata. Oleh karena itu mereka juga memandang sekolah dengan sebelah mata, hanya sebagai kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anaknya.

Tidak kalah mengejutkannya, mereka juga memandang anak-anaknya akan hebat dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang cocok diberikan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu mereka sangat mudah terpengaruh kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah. Buku-buku instant dalam mendidik anak sangat mereka sukai. Misalnya buku tentang “Kiat-Kiat Mengajarkan bayi Membaca” karangan Glenn Doman , atau “Kiat-Kiat Mengajarkan Bayi Matematika” karangan Siegfried, “Berikan Anakmu pemikiran Cemerlang” karangan Therese Engelmann, dan “Kiat-Kiat Mengajarkan Anak Dapat Membaca Dalam Waktu 9 Hari” karangan Sidney Ledson.

Encounter Group Parents–( ORTU NGERUMPI )
Merupakan kelompok orangtua yang memiliki dan menyenangi pergaulan. Mereka terkadang cukup berpendidikan, namun tidak cukup berada atau terkadang tidak memiliki pekerjaan tetap (luntang lantung). Terkadang mereka juga merupakan kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam perkawinannya.

Mereka menyukai dan sangat mementingkan nilai-nilai relationship dalam membina hubungan dengan orang lain. Sebagai akibatnya kelompok ini sering melakukan ketidakpatutan dalam mendidik anak-­anak dengan berbagai perilaku “gang ngrumpi” yang terkadang mengabaikan anak. Kelompok ini banyak membuang-buang waktu dalam kelompoknya sehingga mengabaikan fungsi mereka sebagai orangtua. Atau pun jika mereka memiliki aktivitas di kelompokya lebih berorientasi kepada kepentingan kelompok mereka. Kelompok ini sangat mudah terpengaruh dan latah untuk memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya. Menjadikan anak-anak mereka sebagai “Superkids” juga sangat diharapkan. Namun banyak dari anak anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan.

Milk and Cookies Parents-(ORTU IDEAL)
Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang memiliki masa kanak-kanak yang bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan manis. Mereka cenderung menjadi orangtua yang hangat dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus. Mereka juga sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan penuh dukungan.

Kelompok ini tidak berpeluang menjadi orangtua yang melakukan “miseducation” dalam merawat dan mengasuh anak-anaknya. Mereka memberikan lingkungan yang nyaman kepada anak-anaknya dengan penuh perhatian, dan tumpahan cinta kasih yang tulus sebagai orang tua.

Mereka memenuhi rumah tangga mereka dengan buku-buku, lukisan dan musik yang disukai oleh anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang makan, bersahabat dan menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak mereka untuk tumbuh mekar segala potensi dirinya. Anak-anak mereka pun meninggalkan masa kanak-kanak dengan penuh kenangan indah yang menyebabkan. Kehangatan hidup berkeluarga menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan antusias dalam kehidupan belajar.

Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang menjalankan tugasnya dengan patut kepada anak-anak mereka. Mereka begitu yakin bahwa anak membutuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya. Dengan kata lain mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan menemukan sendiri kekuatan di dirinya. Bagi mereka setiap anak adalah benar-benar seorang anak yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik!

Kamu harus tahu bahwa tiada satu pun yang lebih tinggi, atau lebih kuat, atau lebih baik, atau pun lebih berharga dalam kehidupan nanti daripada kenangan indah; terutama kenangan manis di masa kanak-kanak. Kamu mendengar banyak hal tentang pendidikan, namun beberapa hal yang indah, kenangan berharga yang tersimpan sejak kecil adalah mungkin itu pendidikan yang terbaik. Apabila seseorang menyimpan banyak kenangan indah di masa kecilnya, maka kelak seluruh kehidupannya akan terselamatkan. Bahkan apabila hanya ada satu saja kenangan indah yang tersiampan dalam hati kita, maka itulah kenangan yang akan memberikan satu hari untuk keselamatan kita” (destoyevsky’ s brothers karamoz)

PERSPEKTIF SEKOLAH YANG MENGKARBIT ANAK
Kecenderungan sekolah untuk melakukan pengkarbitan kepada anak didiknya juga terlihat jelas. Hal ini terjadi ketika sekolah berorientasi kepada produk daripada proses pembelajaran. Sekolah terlihat sebagai sebuah “Industri” dengan tawaran-tawaran menarik yang mengabaikan kebutuhan anak. Ada program akselerasi, ada program kelas unggulan. Pekerjaan rumah yang menumpuk. Tugas-tugas dalam bentuk hanya lembaran kerja. Kemudian guru-guru yang sibuk sebagai “Operator kurikulum” dan tidak punya waktu mempersiapkan materi ajar karena rangkap tugas sebagai administrator sekolah. Sebagai guru kelas yang mengawasi dan mengajar terkadang lebih dari 40 anak, guru hanya dapat menjadi “pengabar isi buku pelajaran” ketimbang menjalankan fungsi edukatif dalam menfasilitasi pembelajaran. Di saat-saat tertentu sekolah akan menggunakan “mesin-mesin dalam menskor” capaian prestasi yang diperoleh anak setelah diberikan ujian berupa potongan-potongan mata pelajaran. Anak didik menjadi dimiskinkan dalam menjalani pendidikan di sekolah. Pikiran mereka diforsir untuk menghapalkan atau melakukan tugas-tugas yang tidak mereka butuhkan sebagai anak.

Manfaat apa yang mereka peroleh jika guru menyita anak membuat bagan organisasi sebuah birokrasi? Manfaat apa yang dirasakan anak jika mereka diminta membuat PR yang menuliskan susunan kabinet yang ada di pemerintahan? Manfaat apa yang dimiliki anak jika ia disuruh menghapal kalimat-kalimat yang ada di dalam buku pelajaran? Tumpulnya rasa dalam mencerna apa yang dipikirkan oleh otak dengan apa yang direfleksikan dalam sanubari dan perilaku-perilaku keseharian mereka sebagai anak menjadi semakin senjang. Anak-anak tahu banyak tentang pengetahuan yang dilatihkan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum persekolahan, namun mereka bingung mengimplementasikan dalam kehidupan nyata. Sepanjang hari mereka bersekolah di sekolah untuk sekolah? dengan tugas-tugas dan PR yang menumpuk….

Namun sekolah tidak mengerti bahwa anak sebenarnya butuh bersekolah untuk menyongsong kehidupannya! Lihatlah, mereka semua belajar dengan cara yang sama. Membangun 90 % kognitif dengan 10 % afektif. Paulo Freire mengatakan bahwa sekolah telah melakukan “pedagogy of the oppressed” terhadap anak-anak didiknya. Di mana guru mengajar, anak diajar, guru mengerti semuanya dan anak tidak tahu apa-apa, guru berpikir dan anak dipikirkan, guru berbicara dan anak mendengarkan, guru mendisiplin dan anak didisiplin, guru memilih dan mendesakkan pilihannya dan anak hanya mengikuti, guru bertindak dan anak hanya membayangkan bertindak lewat cerita guru, guru memilih isi program dan anak menjalaninya begitu saja, guru adalah subjek dan anak adalah objek dari proses pembelajaran (Freire,1993). Model pembelajaran banking system ini dikritik habis-habisan sebagai masalah kemanusiaan terbesar. Belum lagi persaingan antar sekolah. dan persaingan ranking wilayah….

Mengkompetensi Anak— merupakan ” KETIDAKPATUTAN PENDIDIKAN”
Anak adalah anugrah Tuhan… sebagai hadiah kepada semesta alam, tetapi citra anak dibentuk oleh sentuhan tangan-tangan manusia dewasa yang bertanggungjawab. “(Nature versus Nurture) bagaimana ?” Karena ada dua pengertian kompetensi. kompetensi yang datang dari kebutuhan di luar diri anak (direkayasa oleh orang dewasa) atau kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dari dalam diri anak sendiri.

Sebagai contoh adalah konsep kompetensi yang dikemukakan oleh John Watson (psikolog) pada tahun 1920 yang mengatakan bahwa bayi dapat ditempa menjadi apapun sesuai kehendak kita; sebagai komponen sentral dari konsep kompetensi. Jika bayi-bayi mampu jadi pembelajar, maka mereka juga dapat dibentuk melalui pembelajaran dini.

Kata-kata Watson yang sangat terkenal adalah sebagai berikut : “Give me a dozen healthy infants, well formed and my own special world to bring them up in, and I’ll guarantee you to take any one at random and train him to become any type of specialist I might select — doctor, lawyer, artist, merchant chief and yes, even beggar and thief regardless of this talents, penchants, tendencies, vocations, and race of his ancestors ”

Pemikiran Watson membuat banyak orang tua melahirkan “intervensi dini” setelah mereka melakukan serangkaian tes Inteligensi kepada anak-anaknya. Ada sebuah kasus kontroversi yang terjadi di Institut New Jersey pada tahun 1979. Di mana guru-guru melakukan serangkaian program tes untuk mengukur “Kecakapan Dasar Minimum (Minimum Basic Skill)” dalam mata pelajaran membaca dan matematika. Hasil dari pelaksanaan program ini dilaporkan kolomnis pendidikan Fred Hechinger kepada New York Times sebagai berikut : “The improvement in those areas were not the result of any magic program or any singular teaching strategy, they were… simply proof that accountability is crucial and that, in the past five years, it has paid off in New Yersey.”

Juga belajar dari biografi tiga orang tokoh legendaris dunia seperti Eleanor Roosevelt, Albert Einstein dan Thomas Edison, yang diilustrasikan sebagai anak-anak yang bodoh dan mengalami keterlambatan dalam akademik ketika mereka bersekolah di SD kelas rendah. Semestinya kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan dini sangat berbahaya jika dibuatkan kompetensi-kompetensi perolehan pengetahuan hanya secara kognitif.

Oleh karena hingga hari ini sekolah belum mampu menjawab dan dapat menampilkan kompetensi emosi sosial anak dalam proses pembelajaran. Pendidikan anak seutuhnya yang terkait dengan berbagai aspek seperti emosi, sosial, kognitif pisik, dan moral belum dapat dikemas dalam pembelajaran di sekolah secara terintegrasi. Sementara pendidikan sejati adalah pendidikan yang mampu melibatkan berbagai aspek yang dimiliki anak sebagai kompetensi yang beragam dan unik untuk dibelajarkan. Bukan anak dibelajarkan untuk di tes dan di skor saja!. Pendidikan sejati bukanlah paket-paket atau kemasan pembelajaran yang berkeping-keping, tetapi bagaimana secara spontan anak dapat terus menerus merawat minat dan keingintahuan untuk belajar. Anak mengenali tumbuh kembang yang terjadi secara berkelangsungan dalam kehidupannya. Perilaku keingintahuan -“curiosity” inilah yang banyak tercabut dalam sistem persekolahan kita. Akademik Bukanlah Keutuhan Dari Sebuah Pendidikan!. “Empty Sacks will never stand upright” — George Eliot

Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah kognitif melalui kecakapan akademik semata! Sebuah pendidikan yang utuh akan membangun secara bersamaan, pikiran, hati, pisik, dan jiwa yang dimiliki anak didiknya. Membelajarkan secara serempak pikiran, hati. dan pisik anak akan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hidup mereka. Di sinilah dibutuhkannya peranan guru sebagai pendidik akademik dan pendidik sanubari “karakter”. Di mana mereka mendidik anak menjadi “good and smart ” terang hati dan pikiran.

Sebuah pendidikan yang baik akan melahirkan “how learn to learn” pada anak didik mereka. Guru-guru yang bersemangat memberi keyakinan kepada anak didiknya bahwa mereka akan memperoleh kecakapan berpikir tinggi, dengan berpikir kritis, dan cakap memecahkan masalah hidup yang mereka hadapi sebagai bagian dari proses mental. Pengetahuan yang terbina dengan baik yang melibatkan aspek kognitif dan emosi, akan melahirkan berbagai kreativitas.

Leonardo da Vinci seorang pelukis besar telah menghabiskan waktunya berjam-jam untuk belajar anatomi tubuh manusia. Thomas Edison mengatakan bahwa “genius is 1 percent inspiration and 99 percent perspiration “.

Semangat belajar “encourage” tidak dapat muncul tiba-tiba di diri anak. Perlu proses yang melibatkan hati, kesukaan dan kecintaan belajar. Sementara di sekolah banyak anak patah hati karena gurunya yang tidak mencintai mereka sebagai anak. Selanjutnya misi sekolah lainnya yang paling fundamental adalah mengalirkan “moral litermy” melalui pendidikan karakter. Kita harus ingat bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Kecerdasan plus karakter inilah tujuan sejati sebuah pendidikan (Martin Luther King, Jr ). lnilah keharmonisan dari pendidikan, bagaimana menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan, antara kecerdasan hati dan pikiran, antara pengetahuan yang berguna dengan perbuatan yang baik ….

PENUTUP
Mengembalikan pendidikan pada hakikatnya untuk menjadikan manusia yang terang hati dan terang pikiran “good and smart” merupakan tugas kita bersama. Melakukan reformasi dalam pendidikan merupakan kerja keras yang mesti dilakukan secara serempak, antara sekolah dan masyarakat, khususnya antara guru dan orangtua. Pendidikan yang ada sekarang ini banyak yang tidak berorientasi kepada kebutuhan anak sehingga tidak dapat memekarkan segala potensi yang dimiliki anak. Atau pun jika ada yang terjadi adalah ketidakseimbangan yang cenderung memekarkan aspek kognitif dan mengabaikan faktor emosi.

Begitu juga orangtua. Mereka berkecenderungan melakukan training dini kepada anak. Mereka ingin anak-anak mereka menjadi “SUPERKIDS”. Inilah fenomena yang sedang trend akhir-akhir ini. Inilah juga awal dari lahirnya era anak-anak karbitan! Lihatlah nanti ketika anak-anak karbitan itu menjadi dewasa, maka mereka akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan. ***

*) Ditulis oleh Dewi Utama Faizah
Bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD DitjenDikdasmen, Depdiknas
Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter
Divisi dari Indonesia Heritage Foundation

Renungan Pendek tentang Etika

Posted on Updated on

Mereka menjadikan kejujuran, kebersihan, keterbukaan dan integritas menjadi modal yang pertama-tama.

Tiba-tiba sore ini membaca sebuah tulisan pendek mengenai bagaimana dulu Adam Air mengalami kejatuhan dalam bisnisnya. Tapi bukan itu yang menarik, melainkan di bagian akhir tulisan yang entah ditulis oleh siapa, ada 3 alinea pesan yang juga dihubungkan dengan konsep etika yang dikemukakan oleh Maxwell (1982).
Pesan –atau lebih tepat bagi saya adalah sebuah nasihat– itu mengatakan bahwa, apapun bisnis yang kita tekuni, ingatlah selalu bahwa usaha yang langgeng adalah usaha yang berpondasi dan berdiri di atas nilai-nilai etika. Berbagai studi menemukan bahwa, perusahaan-perusahaan yang tumbuh menjadi besar bukanlah perusahaan yang diawali oleh manajer-manajer hebat yang bergaji mahal atau dibangun oleh pendiri yang kaya raya dengan modal yang tak terhingga.  Juga bukan semangat kewirausahaan yang dahsyat dengan keberanian yang menggelegar. Juga bukan karena kecerdasan para pendirinya.

Hasil studi itu menemukan bahwa, perusahaan yang tumbuh menjadi besar justeru usaha yang dimulai oleh orang-orang biasa yang sedari awal memegang teguh nilai-nilai etika.  Mereka menjaga kepercayaan dan tidak sembarangan dalam berkata-kata, apalagi dalam bertindak.  Mereka menanamkan nilai-nilai luhur etika yang sehat sejak awal perusahaan itu bekerja.  Mereka menjadikan kejujuran, kebersihan, keterbukaan dan integritas menjadi modal yang pertama-tama.

Semoga perusahaan kita dan bisnis kita termasuk di dalam kelompok usaha yang beretika sehingga terus tumbuh dan bermanfaat untuk sesama. •••
*awal Ramadhan 1436 di Jubung

Pengalaman Setor SPT

Posted on Updated on

Hari ini..
Kami datang jam 9-an.  Kantor pajak buka jam 10 (di hari sabtu ini. katanya sih sampe jam 15. menerima “hanya” 300 orang saja).  Saat saya datang, yang berkerumun di lobby sudah lebih dari 50-an orang.
Tiba-tiba jam 09.35-an seorang anggota Security berkata di depan, “Bapak/ibu, semua harus punya nomor..” sambil menenteng tumpukan kartu berwarna hijau. Tak ayal… semua yang hadir tiba-tiba jadi beringas mengerubuti si satpam bahkan sampai ada yang terjatuh. Ibu-ibu tua, muda, mbak-mbak, mas-mas, semua tumpah menyerbu meja tempat si tegap itu berdiri.
Saya memperhatikan dari kejauhan betapa menyedihkannya birokrasi orang-orang bergaji tinggi ini. bahkan untuk
membeli mesin pencetak nomor urut dan seperangkat video saja tidak sanggup. 😥
Semua mereda setelah masing-masing mendapatkan kartu berwarna hijau dengan angka berwarna hitam, dalam pertempuran yang tidak seimbang.  Saya juga dapat…:) nomor: 142.  Tidak terlalu buruk, untuk seorang yang hanya berdiri menunggu pertarungan hidup-mati itu berakhir.
Sejurus kemudian.. atau mungkin 3-5 jurus kemudian, tiba-tiba si security berbadan tegap itu mengambil mik dan berbicara, “Bapak/ibu, mohon maaf.. kartu tersebut semua salah. yang benar seharusnya berwarna putih..!!”
Tanpa komando, warga-warga negara yang baik dan taat itupun menyerbu kembali ke depan di mana meja bertuliskan “Validasi”, “Peneliti” dan “Tanda Terima” berada.  Dengan agak bingung si bapak ini meminta semua kembali duduk dan mengumpulkan kartu hijau dengan tertib.  Saya sendiri sebagai pengamat kesedihan ini akhirnya berjalan gontai di belakang sambil menaruh angka “142” di deretan meja-meja yang masih kosong itu.
Sepuluh menit kemudian, datang seorang berambut kelimis, berkacamata dan sedikit berwajah arogan mengambil mik dan bicara, “Bapak/ibu, kartu putih nomor urut panggilan akan saya berikan. Tapi, saya ingin sampaikan bahwa saya tadi jam 9 menyaksikan 20 orang yang hadir duluan di tempat ini. mohon maju ke depan..!!” Agak berteriak.
Karuan saja, para wajib pajak yang taat itu pun berhamburan kembali ke depan mengaku datang paling duluan… Perdebatan tidak bisa dihindari bahkan terdengar teriakan-teriakan, karena Si Bapak ini tidak mau menyerahkan kartu yang menumpuk di tangannya karena yang maju ke depan lebih dari 50 orang. (Dalam hati, dia juga bisa mendapatkan angka 20 itu dari mana???? Dari Hongkong..?).
“Ayo mundur semua!!! Saya hanya ingin yang 20 orang tadi jam 9 datang duluan!!!..’
”Bapak jangan ngaku-ngaku datang duluan!!! Tadi bapak lihat saya gak???!! Kalau memang bapak datang jam 9..? Lihat saya gak??!!”
“Ibu jangan ngaku-ngaku!!! Jangan bohong.!!”
“Tadi saya hanya lihat 20 orang.. Tidak lebih!!!”
Entah apa lagi yang dia teriakkan sambil mengibas-ngibaskan tangannya karena ada beberapa orang yang berusaha merebut kartu dari genggamannya…
Adegan MENYEDIHKAN .. dan (maaf) agak TOLOL hadir di kantor sebuah lembaga negara yang dihormati (?)
Yang lucu, ada seorang bapak yang tampak bijak.  Dia juga mengaku datang jam 9.  Dia katakan, “Sudah Pak! Sampyan  kocok saja itu kartu. Lalu bagikan secara acak kepada kami.. Kami akan duduk di tempat duduk masing-masing..”  Kontan si klimis menyambar, “TIDAK BISA!!!”
Perdebatan terjadi sekitar 10 menit, dan entah bagaimana kelanjutannya, tiba-tiba kartu-kartu itu satu persatu berpindah tangan kepada orang-orang yang mengerumuninya.  Bisa jadi dia tidak tahan dikerumuni lebih banyak lagi (karena hari semakin siang, yang datang mulai semakin banyak, karena tidak tahu duduk persoalannya langsung ikut berkerumun bagai menonton tukang sulap).
Beberapa orang tampak tersenyum-senyum karena mendapat nomor awal.  Beberapa yang lainnya uring-uringan karena ada yang datang pagi sekali tapi dapat nomor yang “tidak adil”.
Betapa memilukan (sekaligus MEMALUKAN) potret pelayanan publik dari institusi pengambil duit rakyat terbesar yang bernama Direktorat Jendral Pajak.  Pelayanan yang miskin kreativitas dan mental bossy.  Kontras dengan upaya kesejahteraan mereka yang semakin wah: http://www.tempo.co/read/news/2015/03/22/087651841/Hore-Gaji-Pegawai-Pajak-Naik-Dua-Kali-Lipat
(atau.., bisa jadi ini pula yang menyebabkan sebagian mereka berlagak seperti “BOSS”. tidak semua memang. beberapa teman saya pegawai pajak banyak yang hidup sangat bersahaja)
Bagaimana dengan saya? Finally, saya juga dapat nomor 81  🙂  (ambil terakhir setelah tidak ada yang rebutan lagi). Lumayan lah.. Open-mouthed smile

Mudik 1435

Posted on Updated on

Tak terasa sepekan sudah kami di Banten. Saatnya untuk bersiap-siap kembali ke Jember.
Tanggal 23 Juli lalu mudik -kayak orang-orang- ke Banten diantar Pak Nur sampai Cirebon. Di jalan tidak banyak kemacetan karena kami arus lawan dari arus mudik pada umumnya. Hanya di Comal saja yang terasa mudiknya :). Memutari jembatan Comal sampai 3 jam.
Dari Cirebon ke Banten ngejos nyetir sendiri. Istirahat di Citatah “Taman Firdaus” sebuah Pom Bensin di perbukitan kapur Citatah.

IMG_1198.JPG
Hari ini, walau berat hati melangkah, panggilan tugas dan panggilan sekolah si kakak memaksa kami untuk segera berkemas.

Pagi-pagi telah siap. Sehabis cipika-cipiki dengan Ene’, Eyang, Yuyut dan Engking-enin, mulailah “jejak petualang” dimulai.
Rutenya adalah: Bandung (antar Eyang bawa pulang Hilya) – Subang (survey sekolah buat Kakak) – Kuningan (masih survey sekolah Kakak) – jalur selatan – Jember.

IMG_1794.PNGm
Luar biasa! Tegallumbuh-Bandung relatif lancar, walau sampainya di Bandung sudah jam 18.00. Pas Maghrib pisan.
Esok hari ke Subang dan Kuningan. Pemandangan pagi di daerah Lembang dan Ciater amat menentramkan.
b

IMG_1774-0.JPG
Nah, ini baru rute andalan untuk penaklukan tikungan. Rute Tanjungsiang ke Sumedang dan rute Pakis Haji-Rajagaluh-Mandirancan adalah rute yang asing dan cukup menantang. Seumur-umur belum pernah masuk ke rute tersebut. Amat sangat melelahkan.
Menginap di Kuningan berharap energi pulih dan tidak ada lagi tikungan dan tanjakan seperti ular.

Eeeh, ternyata di daerah Baregbeg Ciamis dan Majenang rutenya lebih banyak tikungan dan jalannya sempit.
Tak pelak, perjalanan ke Jawa Tengah menjadi lebih lambat dari waktu normal. Hari ke-3 baru sampai Purworejo dan kami sekeluarga istrahat di SAC milik Sumber Alam.

SAC adalah sebuah water world dan tempat istirahat sekaligus. Cukup nyaman tempatnya dengan area parkir yang amat luas.
Baru di hari ke-4 rute Purworejo- Jember yang jaraknya hampir sama dengan rute Purworejo-Banten, perjalanan panjang dimulai. Nyaris tanpa istirahat akhirnya sampai pula di Jember jam 03.00 dini hari keesokannya.

Luar biasa!!! Nyetir sendiri sepanjang 1350 km terlampaui sudah. Walau dengan agak sedikit ugal-ugalan di hampir separuh perjalanan. :)…
Rest dulu aah..! ***

Kaos PKS di Masyarakat Ethiopia

Posted on Updated on

Dalam sepekan ini pengguna Facebook dihehobkan dengan ditemukanya Video program BBC yang diberi judul ” The Hottest Place on Earth”, sebuah serial TV yang bekerjasama dengan NASA dalam melihat tempat terpanas di Bumi.

Satelit NASAmengukur cuaca dngan termometer tercanggih yang dimilikinya. Banyak tempat menjadi terpanas di Bumi, namun kebanyakan Kita tidak mengetahuinya. Stasiun cuaca berbasis darat biasanya tidak mengungkapkan cerita lengkap.  Sedangkan Satelit NASA walau bagaimanapun mengamati seluruh planet di alam raya termasuk lingkungan yang ekstrim di mana tidak ada manusia menginginkannya. Dengan mendeteksi suhu kulit tanah dan suhu udara, Satelit NASA dapat menghilangkan mitos atau takhayul yang beredar di masyarakat setempat terkait panas bumi.

Para ilmuwan menganalisis data satelit NASA dan menemukan tempat terpanas di bumi berubah tiga kali dalam waktu tujuh tahun, Tetapi karakteristik dari setiap lokasi hampir sama seperti kering, berbatu, berwarna gelap dan terpencil, seperti tanah sekitar Gunung China misalnya, suhu di tempat-tempat ini sering atas di atas 150 derajat Fahrenheit.

The Hottest Place on Eart 2009

Episode 2009, NASA mengambil tempat di Negara Ethiopia. Sebuah tim ahli dan penjelajah berangkat ke gurun Danakil di utara Ethiopia untuk menyelidiki fenomena geologi yang luar biasa dan mengetahui bagaimana orang-orang dan hewan mereka bertahan di tempat terpanas di bumi.
Kate Humble menginvestigasi betapa sulitnya hidup bagi seorang wanita disana, sedangkan Steve Leonard ingin belajar tentang hubungan antara Penduduk dan hewan mereka untuk membantu mereka dengan tim Dokter Hewan yang dibawa ke lokasi.
Dr Mukul Agarwal melihat masalah kesehatan yang dihadapi dalam hal ini sangat tidak bersahabat dengan lingkungan. Ilmuwan DR. Dougal Jerram terlihat serius pada aktivitas gunung berapi yang luar biasa dari daerah tersebut. Rift Valley sebagai Kameramen serta Ahli Biologi DR. Richard Wiese mencari bentuk kehidupan ekstrim di tanah mendidih dari retakan gunung berapi yang besar.

Baju PKS Di Kaos Penduduk Ethiopia

Disinilah kehebohan dunia maya itu muncul dimana ditemukannya gambar kaos PKS di tengah-tengah masyarakat Ethiopia.  Pada menit ke 8.11 – 8.17 dalam video, terlihat salahseorang peneliti asyik bermain dengan beberapa orang laki-laki dalam sebuah permainan tradisional menggunakan bola kecil dari sejenis karet.  Terlihat berkali-kali seorang pria berikat kepala putih dan berbaju putih PKS no 16 (Pemilu 2004) merebut bola dan berlari dalam permainan itu.

Di antara komentar pengungjung Youtube yang sudah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia :
“Sudah Ada Kader PKS yang berkunjung ke Tempat ini sebelum Program TV BBC…Dua Jempol Untuk PKS ” Kata Isroi
“Saya Menyukai Ini…Kaos PKS dalam Video ini, Wow…Kelompok Muslim dari Indonesia” Bagoes Zahra berseru.
Video lengkapnya dapat dilihat di bawah tulisan ini.

Apapun itu, sampai Tulisan ini diturunkan belum ada konfirmasi dari PKS apakah ada pengiriman pakaian layak pakai untuk masyarakat Ethiopia seperti halnya bantuan kemanusian yang selalu PKS berikan kepada Palestina, Irak, Afganistan dan Bantuan bencana yang ada diseluruh Indonesia.  Kita nantikan Konfirmasi dari PKS. ***

Sumber :
http://www.bbc.co.uk/programmes/b00jch69
http://svs.gsfc.nasa.gov/vis/a010000/a010900/a010946/

Jakarta, 9 Februari 2014

* dari tulisan ADI SUPRIADI / Ahmad Muhammad Haddad Assyarkhan di Kompasiana